APFI MAGAZINE – Majalah APFI edisi ke dua

APFI MAGAZINE – Majalah APFI edisi ke dua

APFI MAGAZINE – Majalah APFI edisi ke dua 

APFIMAGZ Volume 1 Nomor 2, Februari 2017

 

Berkesempatan di interview oleh kang Deni Sugandi (pemred majalah APFI).

Berikut hasil inteview yang diterbitkan di majalah kedua / edisi kedua dari majalah APFI ini

fotografer bersertifikat -1

Makna tujuh bagi saya adalah angka keramat. Sebut saja keajaiban dunia berjumlah tujuh, ada tujuh benua di dunia, warna pelangi ada tujuh, striker pemain bola profesional seringkali menggunakan nomor punggung tujuh. Tidak hanya disitu, cerita fiksi pun disebut tujuh; magnificent seven, seven samurai, hingga kepercayaan dalam beragama; langi ke tujuh, tujuh bumi, jumlah pintu surga dan neraka pun tujuh. Bilangan tersebut menjadi pintu masuk, buku tutorial fotografi how to yang diantarkan dalam bahasa ringan, disertai contohcontoh kasus dan dikemas dengan perwajahan yang populis.

Pemilihan judul Tujuh Hari Belajar Fotografi karya Herry Tjiang sepertinya memikat pembaca, terbukti dengan oplah yang mendekati enam ribu buku untuk cetakan ke-tiga. Sepertinya penulis menawarkan bahwa belajar fotografi tidak perlu lbersusah payah, tetapi disampaikan dengan cara yang menyenangkan, serta menuju langsung ke sasaran.

Strategi inilah yang dimainkan penulis, membidik para pembaca yang ingin menguasai keterampilan teknis fotografi secara cepat. Namun ramuan gaya demikian bukan hal baru, penulis-penulis tutorial berlomba untuk mengetengahkan cara ringkas, padat dan singkat. Saya masih ingat gaya pendekatan John Tefon, ahli digital imaging yang menyusun beberapa seri buku dengan jargon “Jago digital imaging dalam sekejap!”. Saya yakin bahwa harapan penulis buku ini adalah mengantarkan informasi paling dasar, sehingga pembaca tidak perlu lagi mengerutkan dahi. Mungkinkah para pemula langsung bisa menguasai dalam waktu satu minggu? Pertanyaan tersebut saya jawab sendiri, bahwa keterampilan teknis bisa diajarkan dengan metode how to tetapi kembali lagi kepada para pembaca, dituntut untuk bisa melatih secara rajin, karena buku ini bersandarkan pada informasi umum saja.

Buku petunjuk yang berisi teknis fotografi ini telah lama dicita-citakan Herry. 1999 adalah tahun pertama ia belajar fotografi dasar secara otodidak. Pada saat itu ia masih menggunakan media rekam film, berlatih praktek mandiri proses pencetakan di kamar gelap. Namun seiring perjalanannya belajar fotografi, ia terkendala informasi yang sangat terbatas. Selain kurangnya kehadiran tempat kursus dan pelatihan fotografi menyebabkan untuk bisa mandiri dengan belajar dari perkumpulan hingga komunitas. Baginya belajar merupakan proses menyerap ilmu, yang ia bisa dapat dari mana saja, termasuk majalah bulanan Foto Media, merupakan satu-satunya sumber informasi fotografi Indonesia, yang mengupas tidak saja teknis, juga konsep visualisasi.

 

Sejak kuliah, Herry Tjiang memilih kamera sebagai senjatanya, untuk mengail rezeki, meskipun secara formal menyandang gelas magister marketing. Rupanya fotografi selalu mengalir di darahnya, hingga ia memutuskan untuk terjun di dunia profesioal fotografi, dimulai sebagai fotografer di beberapa agen periklanan. Kembali ke cita-citanya sejak awal, 2014 ia mulai menyusun kembali naskah buku fotografi dasar yang sempat tertunda. Ia berharap buku ini merupakan upanya memberikan informasi kepada siapa saja, berkaitan teknis fotografi. Pengalamannya bersama Foto Rana Kreasi (sekarang Jakarta Photo Club), semakin mematangkan keinginannya mengupas teknis fotografi dalam bentuk penerbitan buku populer.

Perjalaannya menyinggahi beberapa negara, sebagai modal dasar dalam penyusunan buku, selain pernah menjadi juara di Canon Photo Marathon 2010. Dari pengalaman inilah ia semakin matang dan percaya diri. Keyakinan inilah yang mendorongnya mempublikasi buku, yang ia rancang dan susun sendiri berdasarkan pengalaman dan sistematika dari beberapa penerbitan buku fotografi luar. 2015 buku ini terbit melalui penerbit PT. Elex Media Komputindo (KG). Buku berukuran 20 cm kali 20 cm ini dianggap pas sebagai format bergambar, dengan jumlah halaman 156 lembar (lembar Pendahuluan), di cetak dengan oplah tembus 6000 kopi, dalam tiga gali cetak ulang 2015 hingga 2016. Buku berjudul 7 Hari Belajar Fotografi, dengan sub judul “Dengan Langkah Mudah, Praktis, dan Lengkap” menjadi andalan bagi siapa saja yang ingin belajar dengan singkat; tujuh hari!. Dalam penyusunan buku dibagi ke dalam tujuh kelompok belajar, diantaranya Perlengkapan di bab pertama, Fokus, Metering, White Balance, Exposure, Komposisi, dan ditutup oleh langkah ke tujuh; Creative Shooting. Buku dicetak di atas kertas art papper, berwarna, menjadi menarik. Tutorial “how to” ini bisa dianggap memudahkan langkah belajar fotografi secara singkat, tanpa bantuan pemandu. Gagasan ini merupakan kristalisasi dari pemikiran Herry selama mengelola usaha kursus fotografi yang telah melahirkan 135 angkatan dari 400 siswa, baik itu kelompok hingga individu dalam kursus singkat.

Lembaga kursus www.jsp.co.id yang didirikan sejak 2009. Buku diantarkan dengan format bahasa singkat, mengupas catatan teknis pemotretan, seperti keseimbangan kecerahan, alat ukur cahaya (metering), kepekaan ISO, kecepatan rana, bukaan diafragma, dan Kelompok halaman Hari ke-dua, yang mengupas eksposur. Foto: Deni Sugandi 60 apfimagz Vol1 No2 apfimagz Vol1 No2 apfimagz Vol1 No2 apfimagz Vol1 No2 61 ekspos cahaya. Masing-masing dilambangkan dengan simbol yang akan memandu pembaca meniru contoh kasus teknis pemotretan. Dalam uraian dijabarkan dengan bantuan foto-foto hasil pemotretan Herry ke beberapa negara di wilayah Asia tengah hingga Tenggara, sehingga memanjakan mata, sekaligus bisa belajar melalui evaluasi singkat teknis.

Di Bab terakhir, dijabarkan pemotretan kreatif, teknik pemotretan menggunakan kecepatan yang sangat rendah, sehingga membutuhkan perlengkapan alat bantu seperti tripod, filter dan pelepas rana otomatis. Buku ini dibungkus dengan pendekatan populer, ditujukan kepada umum, bagi siapa saja yang ingin belajar singkat dan cepat, menguasai keterampila teknis pemotretan, baik menggunakan kamera jenis Dslr hingga format mirrorless. Disusun dengan topik masalah teknis pemotretan yang dikelompokan ke dalam beberapa bab. Memang tidak ada ketentuan khusus, karena meeka yang belajar fotografi pun bebas memulai dari mana saja, sehingga di dalam buku ini perlu dijelaskan dasar-dasar pengenalan kamera dan perlengkapan penunjang lainya. Penggunaan istilah dalam buku ini belumlah dicari padanan dalam bahasa Indonesia. Herry menegaskan bahwa saat penyusunan buku ini, ia belum mendapatkan informasi berupa kamus atau glosarium fotografi dalam serapan bahasa Indonesia.

Selain itu pendekatan populer dibebaskan untuk menggunakan istilah-istilah asing, seperti keseimbangan warna diatuliskan color balance, pemotretan kreatif masih ditulis creative shooting, mode metering seharusnya ditulis moda pengukuran pencahayaan. Sebagian telah menjadi serapan bahasa Indonesia, seperti focus menjadi fokus, exposure menjadi eksposur, daylight menjadi cahaya siang dan seterusnya. Meskipun pembaca akan mengabaikna peng-Indonesiaan ini, namun menjadi penting bagi penyusun buku, bahwa mencari padanan kata yang tepat akan lebih baik, tinimbang masih menggunakan bahasa asing. Dalam penyusunan buku ini Herry lakukan sendiri, mulai dari penyusunan naskah hingga perwajahan.

Pola kerja sendiri dibebaskan untuk menempatkan pengelompokan bab dan contoh-contoh kasus, tanpa harus berdebat dengan editor, termasuk ragam disain yang ditata sedemikian rupa, agar sidang pembaca bisa mengikuti gagasan penulis. Herry menceritakan bila disain diserahkan kepada pihak ke-tiga, biasanya penempatan materi tidak pas, kadang kala salah penyusunan. Alasan demikian yang menjadi dasar garapan buku ini dilakukan sendiri. Kelemahan penyusunan sendiri adalah memilih materi berdasarkan pandangan pribadi. Kehadiran editor menjadi penting, selain menjaga dikoridor tema, juga mengarahkan gaya dan alur penulisan. Tantangan terberat bagi penulis buku untuk fotografi, selain harus bersaing dengan penulis luar negeri, terutama dituntut untuk berani rugi secara finansial.

Penulis buku di Indonesia saat ini dalam posisi kurang baik, karena biaya dan tenaga yang diperlukan dalam penyusunan buku ini, tidak sebanding dengan nilai ekonomis yang didapat. Bagi Herry Tjiang nilai terbesar bukanlah berurusan dengan uang, tetapi ada kepuasan tersendiri diukur dari oplah buku dicetak ulang.

Semoga lahir Herry yang lain, rela memberikan waktu dan tenaganya untuk penyebaran informasi fotografi di Indonesia. Penulis adalah Pemred APFI Magz

 

 

apfi magazine

fotografer bersertifikat

Lihat artikel lengkapnya disini
atau linknya langsung disni

2 Comments

  1. Wah saya selalu ngikutin banget nih update dari mas herry, benar-benar menginspirasi saya :)

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>